Jumlah Pengunjung 877

CARA MENDAPATKAN PERTOLONGAN ALLAH (NASHRULLAH)

CARA MENDAPATKAN PERTOLONGAN ALLAH (NASHRULLAH)

Dedi Wahyudi, S.Kom.I  I  18 September 2024

Cara mendapatkan pertolongan allah – Makna An-Nashru (Pertolongan)

Selama ini kata an-Nashru hanya dimaknai secara bahasa, penulis belum atau tidak mendapati makna An-Nashru secara istilah. Sehingga ketika kita ingin mengetahui makna An-Nashru maka kita harus memahaminya secara bahasa.

Lafadz An-Nashru memiliki makna padanan kata yang sangat banyak dalam Al-Qur’an. Ibnul Jauzi mengatakan dalam kitab Al-Asybah wa An-Nadhair :

وَذكر أهل التَّفْسِير أَن النَّصْر فِي الْقُرْآن على أَرْبَعَة أوجه

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa lafadz An-Nashru dalam Al-Qur’an terbagi menjadi 4 bentuk :

1. Yang pertama adalah Al-Man’u (Pertolongan)

فَلَا يُخَفف عَنْهُم الْعَذَاب وَلَا هم ينْصرُونَ

“Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak ditolong” (Al-Baqarah : 86)

هَل ينصرونكم أَو ينتصرون أَي: يمنعونكم من عَذَاب الله

“Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” (Asy-Syua’raa’ : 93) Maksudnya adalah menolong kalian dari adzab Allah.

فَمن ينصرنا من بَأْس الله إِن جَاءَنَا

“Siapakan yang bisa menolong kami dari adzab Allah jika adzab itu datang kepada kami?” (Al-Ghafir : 29)

مالكم لَا تناصرون

“Mengapa kamu tidak tolong menolong?” (Ash-Shafaat : 25)

2. Yang kedua al-‘Aun ( Pertolongan ) berdasarkan firman Allah swt.

ولينصرن الله من ينصره

“Sungguh Allah pasti akan menolong orang yang menolong Allah” (Al-Hajj : 40)

وَلَئِن قوتلتم لننصرنكم

“Jika kalian diperangi, maka kami pasti akan membantu kalian” (Al-Hasyr : 11)

إِن تنصرُوا الله ينصركم

“Jika kalian menolong (agama) Allah niscaya Allah akan menolong kalian” (Muhammad : 7)

3. Yang ketiga adalah dhafira (Berhasil/Sukses), berdasarkan firman Allah swt.

وَانْصُرْنَا على الْقَوْم الْكَافرين

“Yaa Allah tolonglah kami dari orang-orang kafir” (Al-Baqarah : 250) (Ali Imran : 147)

4. Yang keempat al-Intiqam (Pembalasan), berdasarkan firman Allah swt.

وَلمن انتصر من بعد ظلمه

“Dan sungguh orang-orang yang membela diri setelah teraniaya “ (Asy-Syura :41)

وَلَو شَاءَ الله لانتصر مِنْهُم

“Jika Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka” (Muhammad : 4)

إِنِّي مغلوب فانتصر

“aku adalah orang yang dikalahkan maka menangkanlah aku” (al-Qamar : 10)

Oleh karena itu tidak ada pada lafadz An-Nashr itu makna syar’i secara khusus. Tidak ada juga makna secara urfiyyah (yang biasa digunakan), akan tetapi lafadz an-Nashru digunakan secara bahasa sesuai dengan konteksnya dalam kalimat.

Pertolongan itu ada di tangan Allah

Wajib bagi setiap muslim meyakini bahwa pertolongan itu datangnya dari Allah swt.  Dan bahwasanya kemenangan hanya berasal dari Allah semata. Dia lah sebab dari segala pertolongan. Allah pula yang akan menurunkan para hamba-Nya yang shalih untuk merealisasikan kemenangan. Orang-orang pilihan inilah yang akan berusaha dengan segenap kemampuan mereka sehingga mendapatkan hasil berupa kemenangan yang dijanjikan Allah swt. Dalilnya sangat banyak berkaitan dengan hal ini, diantaranya :

﴿قَد كَانَ لَكُم ءَایَة فِی فِئَتَیۡنِ ٱلۡتَقَتَاۖ فِئَةࣱ تُقَـٰتِلُ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَأُخۡرَىٰ كَافِرَةࣱ یَرَوۡنَهُم مِّثۡلَیۡهِمۡ رَأۡیَ ٱلۡعَیۡنِۚ وَٱللَّهُ یُؤَیِّدُ بِنَصۡرِهِۦ مَن یَشَاۤءُۚ إِنَّ فِی ذَ ٰ⁠لِكَ لَعِبۡرَةࣰ لِّأُو۟لِی ٱلۡأَبۡصَـٰرِ﴾

 “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan Muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata hati).” (Ali Imran : 13)

﴿وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشۡرَىٰ لَكُمۡ وَلِتَطۡمَىِٕنَّ قُلُوبُكُم بِهِۦۗ وَمَا ٱلنَّصۡرُ إِلَّا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِیزِ ٱلۡحَكِیمِ﴾

“ Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana” (Ali Imran : 12)

﴿إِن یَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۖ وَإِن یَخذُلكُم فَمَن ذَا ٱلَّذِی یَنصُرُكُم مِّن بَعدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡیَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ﴾

 “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal” (Ali Imran : 16)

﴿وَمَا جَعَلَهُ ٱللَّهُ إِلَّا بُشۡرَىٰ وَلِتَطۡمَىِٕنَّ بِهِۦ قُلُوبُكُمۡۚ وَمَا ٱلنَّصۡرُ إِلَّا مِنۡ عِندِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِیزٌ حَكِیمٌ﴾

“Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” (Al-Anfal : 10)

 ﴿وَأُخۡرَىٰ تُحِبُّونَهَاۖ نَصۡرࣱ مِّنَ ٱللَّهِ وَفَتۡحࣱ قَرِیبࣱۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ﴾

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman” (Ash-Shaff : 13)

Masih banyak yang lainnya secara jelas menyatakan bahwa pertolongan itu ada di tangan Allah swt. Semata dan hanya dari sisi-Nya semata. Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendaki dan menahannya bagi siapa yang dikehendaki.  Allah juga telah menggambarkan siapa saja yang yang berhak dan pantas mendapatkan pertolongan-Nya.

Janji allah tentang pertolongan

Telah datang janji Allah tentang pertolongan itu dengan shighat yang bermacam-macam dan melalui cara yang berbeda-beda. Diantaranya :

 Allah berjanji tentang kemenangan hambanya yang beriman.

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنجِي الْمُؤْمِنِينَ

“Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kedukaan. Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman” (Al-Anbiya : 88)

 ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُواْ كَذَلِكَ حَقًّا عَلَيْنَا نُنجِ الْمُؤْمِنِينَ

“Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beri-man, demikianlah menjadi kewajiban Kami menyelamatkan orang yang beriman.” (Yunus : 103)

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ * يَوْمَ لَا يَنفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ وَلَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat), (yaitu) hari ketika permintaan maaf tidak berguna bagi orang-orang zhalim dan mereka mendapat laknat dan tempat tinggal yang buruk” (Ghafir : 51-52)

 وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ * إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنصُورُونَ * وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ

“Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.

Dan diantaranya adalah janji Allah untuk memberikan kekuasaan dan penguatan dan menggantikan ketakutan dengan rasa aman “ (Ash-Shafaat : 171-173)

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh, akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An-Nur : 55)

﴿وَلَیَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن یَنصُرُهُۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِیٌّ عَزِیزٌ﴾

“Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.” (Al-Hajj : 40)

Janji Allah pasti benar dan Allah tidak akan mengingkari janji

وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا یُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ

“(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Ar-Rum : 6)

فٱصۡبِرۡ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقࣱّۖ وَلَا یَسۡتَخِفَّنَّكَ ٱلَّذِینَ لَا یُوقِنُونَ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sungguh, janji Allah itu benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.” (Ar-Rum : 60)

فٱصۡبِرۡ إِنَّ وَعۡدَ ٱللَّهِ حَقࣱّۚ فَإِمَّا نُرِیَنَّكَ بَعۡضَ ٱلَّذِی نَعِدُهُمۡ أَوۡ نَتَوَفَّیَنَّكَ فَإِلَیۡنَا یُرۡجَعُونَ

“Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sesungguhnya janji Allah itu benar. Meskipun Kami perlihatkan kepadamu sebagian siksa yang Kami ancamkan kepada mereka, atau pun Kami wafatkan engkau (sebelum ajal menimpa mereka), namun kepada Kamilah mereka dikembalikan” (Ghafir : 77)

Apa itu pertolongan yang telah dijanjikan?

Pertolongan yang dijanjikan Allah kepada hamba-Nya itu khusus kepada hambanya yang mau melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah sesuai hukum Syara’

Pertolongan Allah itu akan turun sesuai kebutuhan dan sesuai fakta yang terjadi. Oleh karena sesungguhnya fakta pertolongan itu terbatas kepada tujuan apa yang ingin diraih.

Pertolongan pada perang fisik contohnya itu berbeda dari pertolongan yang dibutuhkan dalam perang politik, berbeda juga dari pertolongan dalam upaya untuk menegakkan daulah khilafah islamiyyah. Oleh karena itu dalam setiap peperangan satu itu berbeda dengan peperangan lainnya.

Pertolongan dalam perang badar berbeda dengan pertolongan ketikan penaklukan makkah, berbeda juga dnegan pertolongan dalam peang ahzab, berbeda juga degan pertolongan dalam perang mu’tah, berbeda juga dengan perperangan tabuk. Semua itu dikarenakan perbedaan tujuan dalam setiap peperangan itu.

Contoh perang tabuk ketika Rasulullah saw. Mengetahui bagaimana negara romawi mempersiapkan pasukannya untuk menyerang jazirah arab, dan mereka sangat ingin menghancurkan kaum muslimin setelah kekalahan mereka pada perang mu’tah. Maka Rasulullah saw. Mempersiapkan tentara yang sangat banyak untuk menghadang tentara romawi. Dan berhasil rencana Rasulullah tersebut dengan tanpa perang dengan kaburnya tentara romawi dari hadapan kaum muslimin.

وقال صلى الله عليه وسلم: “نصرت بالرعب من مسيرة شهر”

“Aku ditolong melawan musuhku dengan ketakutan mereka dari jarak sebulan perjalanan” (HR Bukhari)

Berbeda dengan perang badar kubro yang menjadi perang pemisah antara dua keadaan. Perang badar melahirkan munculnya kelompok politik dan tentara untuk daulah yang baru berkembang di madinah Munawarah. Dan menghasilkan pengakuan terhadap negara Rasulullah saw di jazirah arab.

﴿وَإِذۡ يَعِدُكُمُ ٱللَّهُ إِحۡدَى ٱلطَّآئِفَتَيۡنِ أَنَّهَا لَكُمۡ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيۡرَ ذَاتِ ٱلشَّوۡكَةِ تَكُونُ لَكُمۡ وَيُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُحِقَّ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَيَقۡطَعَ دَابِرَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ﴾

“Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir” (Al-Anfal : 7)

Perjanjian hudaibiyyah yang merupakan seagung-agung perjanjian politik. Menetralkan orang-orang Quraish yang menjadi musuh utama daulah islam agar umat islam memiliki waktu luang untuk menyebarluaskan pengaruh Islam ke seluruh jaziah arab. Dan mengemban dakwah ke luar Jazirah Arab agar Daulah bisa berekspansi, setelah ekspansi itu menjadi daulah yang besar di seluruh dunia, menghancurkan dua Daulah besar yaitu Persia dan Romawi pada waktu itu.

Pertolongan para rasul terdahulu juga berbeda dengan pertolongan terhadap nabi kita Muhammad saw. Dari sisi jenisnya. Al-Qur’an telah mengabarkan tentang hancurnya kaum-kaum terdahulu yang membangkang terhadap para Rasul. Pertolongan Allah terhadap para rasul terdahulu adalah dengan menghancurkan orang-orang kafir diantara mereka.

كَذَّبَتۡ قَبۡلَهُمۡ قَوۡمُ نُوحࣲ فَكَذَّبُوا۟ عَبۡدَنَا وَقَالُوا۟ مَجۡنُونࣱ وَٱزۡدُجِرَ  فَدَعَا رَبَّهُۥۤ أَنِّی مَغۡلُوبࣱ فَٱنتَصِرۡ  فَفَتَحۡنَاۤ أَبۡوَ ٰ⁠بَ ٱلسَّمَاۤءِ بِمَاۤءࣲ مُّنۡهَمِرࣲ

“Sebelum mereka, kaum Nuh juga telah mendustakan (rasul), maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, “Dia orang gila!” Lalu diusirnya dengan ancaman. Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, “Sesungguhnya aku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).”  Lalu Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah,” (Al Qamar : 9-11)

Kemenangan bagi para Rasul adalah sebuah kepastian, juga bagi orang-orang yang beriman, mereka akan mendapatkan kemenangan dunia dan akhirat.

إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَیَوۡمَ یَقُومُ ٱلۡأَشۡهَـٰدُ

“Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari tampilnya para saksi (hari Kiamat)” (Ghafir : 51)

Dan terjadinya pertolongan itu membutuhkan perjuangan dan persiapan yang matang. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt.:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَیۡهِ وَأَیَّدَهُۥ بِجُنُودࣲ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِیَ ٱلۡعُلۡیَاۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana” (At taubah : 40)

Allah menamakan pertolongannya kepada nabinya, penguatan dan perlindungannya di jalan hijrah sebagai Nushrah. Allah telah melindungi Nabi Muhammad sampai sempurna perjalanan hijrahnya.

Siapa yang berhak mendapatkan janji allah berupa pertolongan?

Allah telah berjanji memberikan Nushrah (pertolongan) bukan sembarang pertolongan (memberikan kepada orang yang bukan ahlinya) Allah menentukan siapa yang berhak dan tidak berhak mendapatkan kemenangan. Al Qur’an telah dengan jelas menerangkan tentang orang-orang yang berhak mendapatkan janji Allah yang agung ini dan Allah juga memberikannya cara-Nya yang indah.

Dengan melihat ayat itu maka jelas bagi kita kriteria-kriteria janji ini dan siapa saja yang berhak mendapatkan janji ini dan siapa yang dipilih oleh Allah swt.

Adapun janji khusus setelah para nabi adalah kepada para hamba-hamba Allah yang beriman seluruhnya. Yaitu hamba yang mengikuti jalan Rasul-Nya dan  menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah swt serta meninggikan agama Allah, dan ini jelas pada semua ayat. Allah juga telah membatasi janji Allah setelah para rasul yaitu hanya untuk kaum mu’minin saja.

Allah swt. Berfirman :

وَكَانَ حَقًّا عَلَیۡنَا نَصۡرُ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (Rum : 47)

Allah juga menjelaskan ciri-ciri orang yang berhak mendapatkan pertolongan sebagai berikut :

(وَلَیَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن یَنصُرُهُۥۤۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِیٌّ عَزِیزٌ ۞ ٱلَّذِینَ إِن مَّكَّنَّـٰهُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡا۟ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ) الحج

Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa.  (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al Hajj : 40-41)

Dhahir ayat ini menjelaskan bahwa sifat mereka adalah ketika Allah berjanji akan memberikan pertolongan, maka Allah akan memberikan kemampuan untuk menegakkan agama Allah, mampu menjalankan semua perintah Allah. Maka siapa saja yang tidak Allah berikan kemampuan untuk menegakkan agama Allah, tidak akan terwujud padanya sifat-sifat yang dimaksud itu padanya.

Apakah Allah menggantungkan terwujudnya nashrullah itu tergantung atas sebab tertentu?

Janji Allah kepada orang-orang beriman untuk mendapatkan kemenangan ternyata juga disertai syarat tertentu yang harus dilakukan. Allah swt berfirman :

 یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِن تَنصُرُوا۟ ٱللَّهَ یَنصُرۡكُمۡ وَیُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad : 7)

Ayat diatas mengandung makna syarat. Secara bahasa menunjukkan makna sababiyyah (sebab akibat) yang menurut istilah para ushulliyin disebutkan :

أن تحقق الجواب وجودا وعدما موقوف على تحقق الشرط وجودا

“Bahwasanya adanya jawab syarat baik itu nampak atau tidak,  itu tergantung atas adanya syarat secara wujud (ada).”

 Dan ini adalah sesuai dengan definisi dari sebab secara ushul yaitu

ما يلزم من وجوده الوجود ومن عدمه العدم

“Sesuatu yang menyebabkan dari keberadaanya ada, dan dari ketiadaanya tiada”

Oleh karena itulah Allah telah menjadikan pertolongan kepada Allah sebab pertolongan kepada hamba-Nya. Dan juga menjadikan pertolongan kepada kita itu adalah hasil dari pertolongan kita kepada Allah swt.

Dan sebab yang dimaksud adalah pertolongan kita kepada Allah dengan menegakkan perintah Allah swt sesuai dengan apa yang ditentukan oleh syariat untuk mewujudkan hasil yang Allah inginkan. Inilah yang disebut metode untuk mendapatkan nushrah (Pertolongan)

Contohnya adalah medan peperangan melawan orang-orang kafir dari negeri-negeri yang ingin ditaklukan. Allah telah meminta dari kaum mu’minin yang akan melawan orang-orang kafir  dengan mempersiapkan kekuatan yang sangat kuat dan super power untuk melawan orang kafir.

وَأَعِدُّوا۟ لَهُم مَّا ٱسۡتَطَعۡتُم مِّن قُوَّةࣲ وَمِن رِّبَاطِ ٱلۡخَیۡلِ تُرۡهِبُونَ بِهِۦ عَدُوَّ ٱللَّهِ وَعَدُوَّكُمۡ وَءَاخَرِینَ مِن دُونِهِمۡ لَا تَعۡلَمُونَهُمُ ٱللَّهُ یَعۡلَمُهُمۡۚ وَمَا تُنفِقُوا۟ مِن شَیۡءࣲ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ یُوَفَّ إِلَیۡكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تُظۡلَمُونَ

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (Al-Anfal : 60)

Adapun kekuatan yang wajib dipersiapkan itu adalah untuk menakut-nakuti musuh Allah, kemudian dengan persiapan perang itulah Allah memberikan kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.  Allah swt berfirman :

قَـٰتِلُوهُمۡ یُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَیۡدِیكُمۡ وَیُخۡزِهِمۡ وَیَنصُرۡكُمۡ عَلَیۡهِمۡ وَیَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمࣲ مُّؤۡمِنِینَ ۞ وَیُذۡهِبۡ غَیۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ وَیَتُوبُ ٱللَّهُ عَلَىٰ مَن یَشَاۤءُۗ وَٱللَّهُ عَلِیمٌ حَكِیمٌ

Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan Dia menghilangkan kemarahan hati mereka (orang mukmin). Dan Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (At-Taubah : 14-15)

Maka perhatikanlah bagaimana berlaku urutannya Mengazab mereka, menhinakan mereka, menolong mereka, Mengobati dada, menghilangkan amarah. Ini semua adalah jawab dari thalab qaatiluuhum, dan itulah yang diminta.

Dan Syarat ini berfaidah berdasarkan makna bahasa : “Menjalankan yang diperintahkan dan sesungguhnya hal itu menjadi sebab jawabnya yaitu pertolongan dalam peperangan” dan berlangsungnya peperangan itu atas bentuk yang disyariatkan itu adalah bagian yang lainnya. Dan kesemuanya itu menjadi sebab dari terwujudnya nushrah. Kecualil jika menyelisihi syarat syariat atau adanya mani’ (penghalang) syariyyah. Sebagaimana kaidah ushul :

المسبب لا يتم إلا إذا وجد سببه، وتمت شروطه، وانعدمت موانعه

“Karena musabab tidak akan sempurna kecuali jika ada sebabnya, sempurna syaratnya dan tidak ada penghalangnya”

Dari sini bisa ditarik kesimpulan yaitu Bahwasanya Allah ketika meminta sesuatu dari kita, untuk menjalankan suatu perbuatan dengan cara yang spesifik itu akan mendapatkan hasil yang spesifik juga. Maka tidak bisa dipungkiri bahwasanya perbuatan tidak akan menghasilkan apa apa kecuali apa yang dilakukan karena Allah swt. Oleh karena itu tetaplah berada di jalan Allah dalam menegakkan Daulah Khilafah Islamiyyah disamping kita juga menegakkan seluruh bagian-bagian syariat dan amalnya dalam bentuk yang spesifik juga.

Sesungguhnya kegiatan-kegiatan kutlah yang dikehendaki oleh syariat adalah yang sesuai dengan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah saw di Makkah untuk menegakkan Daulah Islamiyyah. Menyebarkan opini umum dan membentuk kesadaran umum, kemudian melihat reaksi manusia terhadap opini umum yang tersebar dari kesadaran umum tersebut. Beliau juga mengamati respon ahlul quwwah terhadap hal tersebut. Semua itu benar dinamakan sebab. Dan tidak termasuk atas bagian-bagian yang terperinci sebagiannya terhadap yang lain.

Maka tatsqif semata bukanlah sebab, juga thalabun nushrah semata bukanlah sebab, opini umum semata juga bukan sebab. Sesungguhnya sekumpulan perbuatan-perbuatan itulah yang dinamakan sebab. Boleh juga dikatakan bahwa sekumpulan amal-amal itu sebagai sebab. Karena amal-amal itu semuanya yang dilakukan oleh Rasulullah saw di makkah yang menghasilkan tegaknya daulah di madinah.

Allah swt berfirman :

 إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدۡ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذۡ أَخۡرَجَهُ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ثَانِیَ ٱثۡنَیۡنِ إِذۡ هُمَا فِی ٱلۡغَارِ إِذۡ یَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحۡزَنۡ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَاۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِینَتَهُۥ عَلَیۡهِ وَأَیَّدَهُۥ بِجُنُودࣲ لَّمۡ تَرَوۡهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفۡلَىٰۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِیَ ٱلۡعُلۡیَاۗ وَٱللَّهُ عَزِیزٌ حَكِیمٌ

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya : “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Qur’an menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah maha perkasa lagi maha bijaksana” (At-Taubah : 40)

وَإِن یُرِیدُوۤا۟ أَن یَخۡدَعُوكَ فَإِنَّ حَسۡبَكَ ٱللَّهُۚ هُوَ ٱلَّذِیۤ أَیَّدَكَ بِنَصۡرِهِۦ وَبِٱلۡمُؤۡمِنِینَ ۞ وَأَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوبِهِمۡۚ لَوۡ أَنفَقۡتَ مَا فِی ٱلۡأَرۡضِ جَمِیعࣰا مَّاۤ أَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوبِهِمۡ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ أَلَّفَ بَیۡنَهُمۡۚ إِنَّهُۥ عَزِیزٌ حَكِیمࣱ ۞ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلنَّبِیُّ حَسۡبُكَ ٱللَّهُ وَمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ

“Jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelidungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan yang mempersatukan hatimereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah Perkasa lagi Maha bijakasana. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu” (Al-Anfal : 61-64)

Allah meninggikan derajat orang-orang yang menolong Allah dalam menegakkan daulah dalam banyak ayat di Al-Qur’an. Allah berfirman :

والذين أووا ونصروا أولئك هم المؤمنون حقاً لهم مغفرة وزرق كريم

“Dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan (kepada orang-orang muhajirin) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rizki (nikmat) yang mulia” (Al-Anfal : 74)

Penentuan waktu (kapan) pertolongan dinisbatkan kepada sebab

Ketika sebab sudah ada, bukan berarti nushrah akan segera turun. Akan tetapi memungkinkan terjadinya nushrah datang dalam waktu yang lama setelah terwujudnya sebab, akan tetapi dia tetap akan terwujud. Allah berfirman :

وَعۡدَ ٱللَّهِۖ لَا یُخۡلِفُ ٱللَّهُ وَعۡدَهُۥ وَلَـٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا یَعۡلَمُونَ

“(sebagai) janji yang sebenarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Ar-Rum : 6)

Kemungkingan mundurnya pertolongan walaupun sebab sudah ada dan sudah ada syarat terwujud dan tidak ada mani’ syar’iy itu ditunjukan juga oleh dalil syar’i, diantaranya firman Allah swt. :

أَمۡ حَسِبۡتُمۡ أَن تَدۡخُلُوا۟ ٱلۡجَنَّةَ وَلَمَّا یَأۡتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِینَ خَلَوۡا۟ مِن قَبۡلِكُمۖ مَّسَّتۡهُمُ ٱلۡبَأۡسَاۤءُ وَٱلضَّرَّاۤءُ وَزُلۡزِلُوا۟ حَتَّىٰ یَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصۡرُ ٱللَّهِۗ أَلَاۤ إِنَّ نَصۡرَ ٱللَّهِ قَرِیبࣱ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya :”kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (Al Baqarah : 214)

Makna dekat adalah

ما تأكد استحقاقه، ولما يقع

“Sesuatu yang pasti akan terjadi dan belum terjadi”

Firman Allah swt :

حَتَّىٰۤ إِذَا ٱسۡتَیۡـَٔسَ ٱلرُّسُلُ وَظَنُّوۤا۟ أَنَّهُمۡ قَدۡ كُذِبُوا۟ جَاۤءَهُمۡ نَصۡرُنَا فَنُجِّیَ مَن نَّشَاۤءُۖ وَلَا یُرَدُّ بَأۡسُنَا عَنِ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُجۡرِمِینَ

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan kaumnya) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka (para rasul) itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Dan siksa Kami tidak dapat ditolak dari orang yang berdosa.” (Yusuf : 110)

Maka datangnya pertolongan adalah setelah kita putus asa, dan putus asa tidak akan pernah terjadi kecuali setelah melakukan sebab dan menanti hasil, bahkan terus menerus menanti hasil. Oleh karena itu seandainya sebuah kutlah telah mengerjakan seluruh sebab yang akan mendatangkan nushroh, bukan berarti pertolongan itu akan segera datang. Karena sesungguhnya pertolongan itu adalah urusan Allah semata, Dialah yang mengetahui hamba-hambanya yang beramal.

Dia juga yang maha mengetahui kebaikan, yang menurunkan pertolongan-Nya kapan saja Dia mau dan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Kita telah menyaksikan pertempuran-pertempuran kaum muslimin bagimana datangnya pertolongan itu pada satu hari peperangan. Kita juga telah menyaksikan blokade (pengepungan) yang terjadi berhari-hari, kemudian datang pertolongan Allah.

Kita juga menyaksikan Rasulullah saw, beliau adalah sebaik-baik pengemban Islam, sebaik-baik pengamal Islam, dan sebaik-baik penyampai Islam. Bagaimana beliau melakukan thalabun nushrah lebih dari dua puluh kali, bersama dengan itu belum juga datang nushrah. Akan tetapi justru nushrah datang ke Makkah melalui orang-orang anshar yang berislam kemudian membaiat beliau saw. Pada baiat aqabah yang kedua pada bulan dzul hijjah dan itu juga belum sempurna hingga beliau berhijrah ke madinah dan sampai disana pada tanggal 12 rabiul awwal, dst.

Maka, nushrah itu bukan merupakan hasil dari amal perbuatan kita, sebagaimana bukan berarti ketika kita melakukan sebab akan segera terwujud nushrah. Akan tetapi adanya nushrah itu terjadi setelah amal perbuatan yang diminta oleh syara’. Berkaitan dengan nushrah itu merupakan kehendak Allah. Karena ilmu Allah yang mengetahui segala kebaikan. Maka kita sebagai hambanya ketika telah melakukan sebab kemudian belum turun juga nushrah, ya kita ambil hikmahnya saja.

Allah swt berfirman :

مَّا كَانَ ٱللَّهُ لِیَذَرَ ٱلۡمُؤۡمِنِینَ عَلَىٰ مَاۤ أَنتُمۡ عَلَیۡهِ حَتَّىٰ یَمِیزَ ٱلۡخَبِیثَ مِنَ ٱلطَّیِّبِۗ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِیُطۡلِعَكُمۡ عَلَى ٱلۡغَیۡبِ وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ یَجۡتَبِی مِن رُّسُلِهِۦ مَن یَشَاۤءُۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦۚ وَإِن تُؤۡمِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَلَكُمۡ أَجۡرٌ عَظِیمࣱ

“Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik. Allah tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, tetapi Allah memilih siapa yang Dia kehendaki di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Jika kamu beriman dan bertakwa, maka kamu akan mendapat pahala yang besar” (Ali Imran : 179)

Sebab tidak akan berhasil kecuali dengan terwujudnya syarat-syarat dan ketiadaan mani’ (penghalang).

Sungguh nash-nash syariah telah menunjukkan bahwasanya wajib mewujudkan syarat tertentu bersamaan dengan sebab, untuk mewujudkan nushrah. Dan menghilangkan mani’ yang mengalihkan kepada selain nushrah.

Diantara syarat itu adalah Iman, sebagaimana Firman Allah swt :

إنا لننصر رسلنا والذين آمنوا..

Sungguh kakmi akan menolong rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman (ghafir : 51)

Syarat lainnya adalah sabar dan taqwa, sebagaimana firman Allah swt :

بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ

“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda” (ali Imran : 125)

Diantaranya yang lain adalah tawakkal kepada Allah

إذ همت طائفتان منكم أن تفشلا والله وليهما وعلى الله فليتوكل المؤمنون

Ketika dua golongan dari pihak kamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong mereka. Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal. (ali imran : 122)

Firman Allah swt :

إن ينصركم الله فلا غالب لكم، وإن يخذلكم فمن ذا الذي ينصركم من بعده، وعلى الله فليتوكل المؤمنون

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakal.” (Ali Imran : 160)

Firman Allah swt :

(إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم أني ممدكم بألف من الملائكة مردِفين)

“ (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Al anfal : 9)

Dan diantara syarat-syarat juga adalah mampu menegakkan agama Allah dan syariat-Nya setelah Nushrah. Oleh karena itu allah berfirman :

ٱلَّذِینَ إِن مَّكَّنَّـٰهُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُوا۟ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡا۟ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَـٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ

(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al Hajj : 41)

Maka siapa saja yang tidak mampu untuk mengemban tanggungjawab ini berarti dia tidak pantas untuk menerima nushrah.

Dengan ketiadaan syarat-syarat ini maka tiada juga janji itu. Dan pada perang hunain yaitu ketika kaum muslimin tertipu dengan banyaknya jumlah maka terjadilah kekalahan. Umat islam terpedaya dengan banyaknya jumlah sehingga menafikan tawakkal kepada Allah dan menafikan keyakinan bahwa pertolongan itu datangnya dari Allah semata.

Diantara sebesar-besar penghalang (mani’) nushrah adalah maksiat. Pada perang uhud, ketika pasukan pemanah yang ada di atas bukit mengabaikan perintah rasulullah saw, dan segera mereka turun meninggalkan posisi mereka maka yang terjadi adalah hilangnya nushrah setelah sebelumnya turun nushrah dan berubah menjadi kekalahan. Maka kemudian Allah swt berfirman :

وَلَقَدۡ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعۡدَهٗۤ اِذۡ تَحُسُّوۡنَهُمۡ بِاِذۡنِهٖ‌ۚ حَتّٰۤی اِذَا فَشِلۡتُمۡ وَتَـنَازَعۡتُمۡ فِى الۡاَمۡرِ وَعَصَيۡتُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَاۤ اَرٰٮكُمۡ مَّا تُحِبُّوۡنَ‌ؕ مِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّرِيۡدُ الدُّنۡيَا وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّرِيۡدُ الۡاٰخِرَةَ  ‌‌‌ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمۡ عَنۡهُمۡ لِيَبۡتَلِيَكُمۡ‌ۚ وَلَقَدۡ عَفَا عَنۡكُمۡ‌ؕ وَ اللّٰهُ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَى الۡمُؤۡمِنِيۡنَ

Dan sungguh, Allah telah memenuhi janji-Nya kepadamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mengabaikan perintah Rasul setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu, tetapi Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin. (Ali Imran : 152)

Setelah Allah memperlihatkan kepada mereka apa yang mereka sukai berupa pertolongan, kemenangan dan terbunuhnya orang-orang kafir, akan tetapi mereka kemudian gagal dan berselisih dan bermaksiast maka Allah mengangkat pertolongan itu dan menggantinya dengan kekalahan, sehingga allah swt berfirman :

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ

“ Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim,” (Ali Imran : 140)

Mungkin akan muncul pertanyaan : bagaimana kita membedakan antara sebab dan syarat? Dan bagaimana mengkaitkan thariqah dengan sebab? Dan kenapa menjadikan iman taqwa, sabar, awakal, doa sebagai syarat? Dan tidak menjadikan iman sebagai sebab? Atau takwa, sabar, tawakal, doa mungkin ada syarat-syarat lain?

Maka jawabnya adalah ada pada Ayat Al-Qur’an yang mengurutkan hasil atas sebab yaitu firman Allah swt :

(إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم)،

 “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad : 7)

Dan juga turun pada masalah qital (perang)

(فإذا لقيتم الذين كفروا فضرب الرقاب..)

“Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), maka pukullah batang leher mereka. “ (Muhamamd : 4)

Dan menyebutkan didalamnya

(ولو شاء الله لانتصر منهم)،

Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka,

Maka yang dikehendaki dari kita adalah kita menolong agama Allah dengan amal atau dengan sejumlah amal yang bisa mewujudkan nushrah atas musuh-musuh. Maka ketika kita membaca ayat 

(إن تنصروا الله ينصركم ويثبت أقدامكم)

 “Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (Muhammad : 7)

Kita akan mengetahui bahwasanya amal ini atau amal-amal yang dikhendaki adalah sebab. Ini juga sesuai dengan definisi sebab yaitu 

أنه يلزم من وجوده وجود ومن عدمه العدم

“Sebab adalah yang mewajibkan adanya itu ada dan tiadanya tiada”

Maka tidak wajib dari adanya sebab itu ada nushrah, akan tetapi ketiadaan sebab sesuatu (nushrah) itu menjadi tiada. Maka tidak harus adanya iman kitu adanya nushrah.

Akan tetapi nushrah itu tidak akan adan jika tidak ada iman, maka tidak harus adanya takwa itu ada nushrah, akan tetapi ketiadaan takwa menyebabkan ketiadaan nushrah. Dan demikianlah tersisa syarat yang tersebut.

Adapun sebab maka tidak akan ada hasil tanpa adanya sebab, maka tidak akan ada nushrah dari Allah jika kita tidak menolong agama Allah dengan amal-amal yang dikehendaki Allah swt.

Dan allah telah meminta kita untuk mempersiapkan diri dalam memerangi musuh dengan persiapan yang sungguh-sungguh. Dan meminta kita untuk beramaldengan metode rasulullah saw untuk menegakkan daulah. Maka tidak akan ada nushrah tanpa adanya persiapan. Dan tidak akan tegak daulah tanpa adanya amal perbuatan yang sesuai dengan thariqah syar’iyyah. Bersamaan dengan adanya syarat dan ketiadaan mani’ itu.

Jika kamu tertarik gabung ke Pesantren Nidaa Al-Haar, yuk klik “Daftar” di bawah ini!

SYARAT PENDAFTARAN

 

Telah duduk dikelas terakhir SD/MI /sederajat untuk program Madrasah Tsanawiyyah

Telah duduk dikelas terakhir SMP/MTs /sederajat untuk program Aliyyah Tarbiyyah Muallimin

SYARAT
PENDAFTARAN

Telah duduk dikelas terakhir SD/MI /
sederajat untuk program MTs ( Madrasah Tsanawiyyah )

Telah duduk dikelas terakhir SMP/MTs /sederajat untuk program MA ( Aliyyah Tarbiyyah Muallimin )

© 2026 All Rights Reserved.

© 2024 All Rights Reserved.